Disini Semuanya Bermula

Suatu malam di bulan Juni 2009…

Jam 9 malam lewat 15 menit… berarti sudah 2 jam lebih sejak akoe keluar dari kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Gila ! sudah 2 jam dan akoe masih terjebak dalam kemacetan parah di seputar Kampung Rambutan.

Memang sih, macet bukanlah hal yang aneh di Jakarta. Justru jika jalanan di Jakarta lengang, itu baru aneh. Tapi 2 jam hanya untuk menempuh jarak kurang dari 3 kilometer ? ini sih kelewatan !

Belum lagi suara klakson yang bersahut-sahutan menambah pusing kepala. Kenapa sih mereka hobi banget membunyikan klakson? padahal sudah jelas membunyikan klakson ditengah kemacetan parah seperti ini tidak akan ada gunanya sama sekali. Pyuh…

Hari ini adalah jadwal terakhir akoe melakukan survey awal untuk proyek “Festival Museum Nusantara 2010” yang diselenggarakan oleh Taman Mini Indonesia Indah. Sudah 5 hari penuh akoe blusukan didalam kawasan Taman Mini Indonesia Indah yang legendaris ini.

Semula akoe agak bingung saat ditawari untuk menggarap proyek ini. Bikin Festival Museum kok di Taman Mini? bukannya Taman Mini itu isinya anjungan-anjungan daerah? ah… ternyata akoe kurang gaul. Tidak disangka bahwa didalam Taman Mini Indonesia Indah terdapat tidak kurang dari 17 Museum !

Proses survey dalam rangka penggalian ide berlangsung lancar dan menyenangkan. Namanya juga survey di lokasi wisata, serasa liburan tapi dibayar.

Meski target utamanya adalah museum, namun akoe sengaja mengambil kesempatan untuk mengunjungi wahana selain museum seperti anjungan dan wahana  lainnya. Bukannya aji mumpung, hanya saja akoe berkeyakinan bahwa seluruh lokasi di Taman Mini Indonesia Indah sangat berhubungan dengan target dan tema acara yang akan diselenggarakan.

Nah, selama proses penggalian ide baik di museum maupun lokasi lainnya, akoe banyak mengunyah berbagai informasi menarik tentang Indonesia. Mulai dari sejarah, budaya dan tradisi serta berbagai peninggalannya. Akoe yang sebelumnya tidak terlalu mengenal budaya daerah mulai tertarik dan perlahan beranjak menjadi terkagum- kagum. Bagaimana tidak, masyarakat tempo dulu yang hidup dimasa teknologi belum lagi menghampiri sudah mampu dengan bijaksana menata kehidupan bermasyarakatnya dengan begitu indah.

Mungkin disaat itulah akoe merasakan jatuh cinta yang teramat sangat pada negeri ini. Betapa negeri dimana akoe berdiri ini begitu kaya dengan cerita. Begitu banyaknya cerita hingga rasanya satu gudang buku-pun tak akan cukup untuk menceritakannya.

“Diiiiiiin… !” suara klakson truk dibelakang-koe begitu nyaring dan panjang membuatku sedikit terlonjak. Ah! bikin kaget aja.

Ternyata akoe sudah sampai di kawasan Cilandak. Sementara jalur di hadapan-koe masih begitu padat dan merayap. Ampun!

Akhirnya akoe memutuskan untuk keluar dari tol dan mampir ke pusat perbelanjaan ternama di kawasan Cilandak ini. Daripada bete menghadapi macet, mending ngopi-ngopi cantik dulu lah.

Memasuki pelataran parkir,  muncul persoalan baru. Tidak mudah mendapatkan tempat parkir meski saat ini sudah hampir jam 10 malam. Begitulah Jakarta, kota yang tidak pernah tidur. Apalagi di tempat-tempat nongkrong seperti ini, semakin malam justru semakin ramai.

Setelah mendapatkan parkir di lokasi yang tidak terlalu jauh, akoe berjalan santai menuju coffee shop favorit yang biasa akoe kunjungi.

“minta long black mas”

Akoe memang terbiasa minum kopi hitam tanpa gula dan campuran lainnya. Karena akoe berpendapat, yang namanya kopi itu harus pahit. Kalau manis namanya kolak!

Akoe mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan mencari tempat kosong. Semuanya penuh. Hanya tersisa meja di luar coffee shop. Akoe tidak begitu suka duduk diluar karena biasanya bagian luar ditempati oleh para perokok. Akoe bukan perokok, dan akoe tidak suka bau asap rokok.

Sekali lagi akoe mengedarkan pandangan sambil berharap masih ada tempat kosong di dalam ruangan. Dan.. ah, itu dia! ada satu tempat kosong di bagian sudut. Sebuah meja dengan hanya satu kursi. Pas!

Akoe bergegas menempati kursi tersebut takut keduluan orang lain. Ternyata posisinya lumayan 

strategis. Dari meja ini akoe bisa dengan leluasa memandang keramaian di luar coffee shop. Memandang orang-orang yang lalu lalang dengan berbagai tingkah dan gayanya. Hiburan masyarakat kota. Tidak bisa menikmati keindahan alam, cukuplah menikmati keindahan orang-orang yang lalu lalang!

Belum lama akoe duduk manis dan memandang keramaian dibalik kaca besar coffee shop, akoe melihat seorang ibu paruh baya yang terjatuh karena tersenggol pengunjung lainnya. Tas belanjaan ibu itu terlempar dan isinya berhamburan, sementara si ibu terduduk nyaris tengkurap. Lalu bagaimana dengan pemuda yang barusan menyenggol si ibu? raib entah kemana. Jangankan menolong, minta maaf-pun tidak. Sungguh Ter-la-lu!

Dengan wajah meringis ibu itu memunguti belanjaannya satu persatu tanpa ada seorangpun yang peduli. Para pengunjung yang lalu lalang hanya melirik sekilas, lalu berlalu dan kembali dengan kesibukannya masing-masing.

Ah, sudah begitu tak perdulinya kah bangsa ini? Padahal baru tadi pagi akoe membaca sebuah kutipan kalimat Bung Karno Sang Proklamator. Dalam kutipan tersebut beliau berujar :

Sebagai tadi telah saya katakan: kita mendirikan Negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia. Semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong.

Kalimat heroik yang bisa dimaknai bahwa Bung Karno ingin menjadikan gotong-royong sebagai prinsip dan karakter bangsa Indonesia. Gotong-royong yang harusnya merupakan saudara dekat dari tolong-menolong, sopan-santun, peduli!

Lalu dimana gotong-royong nya jika semua hanya diam disaat melihat seorang ibu terjatuh dan belanjaannya berserakan. Untung masih ada satpam yang sigap membantu.

Long Black Coffee atas nama Thiar! teriak pelayan mengabarkan bahwa kopi yang akoe pesan sudah siap terhidang. Akoe masih memandang sejenak ke arah si ibu sebelum akhirnya melangkah ke kasir mengambil kopi yang akoe pesan. Kopi hitam panas dalam sebuah cangkir putih yang menggugah selera. Akoe segera membawa cangkir kopi itu ke meja di sudut yang menjadi singgasana-koe malam ini.

Sekilas akoe menghirup aroma kopi hitam ini sebelum akhirnya koe-sruput dengan nikmat. Minum kopi hitam panas memang tidak bisa asal tenggak seperti minum soft drink, melainkan harus di sruput pelan-pelan sambil menikmati cita rasanya di ujung lidah. Aaaah… nikmat!

Kembali akoe menikmati hiburan gratis memandang orang-orang yang lalu lalang melintasi coffee shop dimana akoe duduk manis ditemani secangkir kopi hitam yang nikmat, sambil kembali mengingat-ingat berbagai kisah tentang budaya Indonesia yang akoe baca di Taman Mini Indonesia Indah.

Kisah tentang adat istiadat, perilaku sosial, ekonomi dan politik di masa lalu yang begitu luhur. Juga tentang cara berpakaian yang santun dan berkelas.

Lalu tiba-tiba melintas sekolompok remaja wanita sambil tertawa-tawa renyah. Entah apa yang mereka tertawakan. Yang jelas akoe tidak begitu tertarik dengan perbincangan mereka. Akoe lebih tertarik dengan penampilan gadis-gadis muda ini. Selain cantik, cara mereka berpakaian sangat menarik perhatian. Mengenakan kaos tipis yang memperlihatkan bahu dan sebagian perut mereka serta bayang-bayang pakaian dalam berwarna kontras. Belum lagi celana super pendek laksana “pakaian dalam” berbahan jeans yang dengan gamblang memperlihatkan keindahan sepasang kaki belia mereka.

Jelas ini bukan cara berpakaian yang santun dan berkelas sebagaimana akoe baca dalam kisah tentang budaya Indonesia. Cara berpakaian seperti ini lebih sering akoe lihat di film-film Hollywood atau film-film Korea yang sedang trend di kalangan anak muda.

Gawat! malam ini akoe dihadapkan pada dua kenyataan yang sangat miris. Pertama, kenyataan bahwa rasa peduli mulai lenyap dari sanubari bangsa Indonesia lewat peristiwa jatuhnya seorang ibu beberapa menit yang lalu. Yang kedua, hilangnya jati diri bangsa yang diperlihatkan melalui cara berpakaian anak-anak muda yang melintas dihadapan-koe.

Akoe bisa membayangkan bagaimana perilaku keseharian anak-anak muda ini. Dari cara mereka berpakaian akoe bisa menduga-duga bagaimana cara mereka bergaul, bagaimana pola pikirnya, bagaimana mereka menjalani kehidupannya. Walaupun tentu saja apa yang akoe duga itu belum tentu seratus persen benar. Tapi paling tidak itulah yang terlintas dalam pikiran-koe saat ini, dan bisa jadi itu juga yang dipikirkan oleh orang lain.

Ah, apa jadinya jika suatu saat nanti mereka mendapat kesempatan menjadi pemimpin di negeri ini. Bangsa ini akan semakin jauh dari karakter asli-nya.

Akoe membayangkan, disaat budaya bergeser, maka seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegarapun ikut bergeser. Disaat budaya sopan santun dan tolong menolong tergantikan dengan budaya cuek bebek ala amrik, maka lenyaplah sebuah identitas. Disaat rasa peduli sesama semakin pupus, maka disaat yang bersamaan kekejaman sosial semakin tumbuh berkembang melibas moralitas bangsa.

Ih… ngeri…

Tiba-tiba akoe merasa harus melakukan sesuatu, entah apa sesuatu itu. Apakah akoe harus membuat sebuah seminar? atau pelatihan? Akoe pernah berkecimpung dalam dunia pelatihan bersama lembaga pelatihan spiritual terbesar di Indonesia. Rasanya akoe cukup paham bagaimana mengemas sebuah seminar atau pelatihan untuk anak-anak muda.

Atau akoe mulai saja dengan menulis buku?  ah, entahlah… akoe belum bisa memutuskan apa yang akan akoe lakukan. Tapi harus! Akoe harus melakukan sesuatu!

Akoe kembali meraih cangkir kopi hitam sambil pikiran-koe menerawang kemana-mana, dan … ups! kopinya sudah habis!

Sudah hampir tengah malam. Sudah saatnya pulang. Akoe menghela nafas dalam-dalam sambil membulatkan tekad untuk segera menyusun rencana dan berbuat sesuatu untuk bangsa ini. Ya, disinilah semuanya bermula.

Dengan langkah yang terasa begitu ringan akoe menuju tempat parkir, untuk selanjutnya kembali menembus malam Jakarta…. yang ternyata masih macet !

#edisicuplikanbukuAkoeIndonesia

Salam Kreatif,
Thiar Bramanthia

Inisiator Akoe Indonesia | Konsultan Kreatif 

28 total views, 3 views today

Thiar Bramanthia

Inisiator AkoeIndonesia, Konsultan Kreatif dan Digital Marketing, Pemerhati Budaya Nusantara dan Blogger yang doyan kopi kental sambil dengerin musik metal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *