Mesir Kuno dan Kapur Barus

Alkisah, ada sebuah kota pelabuhan bernama kota Barus atau biasa disebut juga dengan nama Fansur yang terletak di pesisir barat pulau Sumatera. Kira-kira lokasinya saat ini berada dekat dengan kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Konon kota ini sudah berdiri sejak 3.000 tahun sebelum masehi.

Kota Barus merupakan kota perdagangan terbesar di masa itu. Banyak kapal-kapal asing dari berbagai negara yang singgah disana.

Sebagian penduduk kota Barus mencari nafkah dengan cara berdagang, sedangkan sebagian lainnya lagi ber-profesi sebagai penambang.

“Penambang itu apa?” tanya Naila tiba-tiba.

“Penambang itu, orang-orang yang bekerja menggali tanah atau gunung untuk mengambil emas, perak, dan lain-lain.”

“ooh” Naila hanya mengangguk-angguk pelan sambil mencomot kentang goreng yang baru saja diantar oleh pelayan. Sepertinya anak ini gak pernah kenyang. Padahal tadi sudah makan nasi pakai ayam penyet. Sekarang nambah kentang goreng lagi.

Sejak dulu kota Barus dikenal dengan hasil tambang berupa Kapur Barus. Hasil tambang inilah yang dijual kepada pedagang-pedagang asing yang singgah di pelabuhan Barus.

Menurut catatan Herodotus dalam “Catatan dan Hikayat Raja-Raja Mesir” dikisahkan bahwa pada masa Dinasti ke-18 Mesir, sekitar tahun 1.567 SM – 1.339 SM bangsa Mesir sudah sering mengunjungi Pulau Barus.

Herodotus itu siapa?”

“Herodotus itu seorang ahli sejarah asal Turki yang hidup di abad ke 5. Sekitar tahun 400an gitu lah”

Berdasarkan catatan Herodotus tadi, dikisahkan bahwa bangsa Mesir sering mengunjungi Pulau Barus untuk membeli Kapur Barus.

“Kapur Barus itu kan yang suka ada di lemari baju itu ya” tukas Naila masih sambil mengunyah kentang goreng. Mulutnya sudah mulai belepotan saus tomat.

“Iya betul. Tapi oleh orang Mesir, kapur barus tadi bukan untuk disimpan di lemari pakaian. Melainkan untuk bahan membuat Mummy” Naila langsung melotot mendengar kalimat-koe barusan.

“Hah ? Mummy dibikinnya dari gituan ?”

====

Pengen tau kelanjutan ceritanya  ? nantikan artikel berikutnya ya….

#edisicuplikanbukuAkoeIndonesia

Salam Kreatif,
Thiar Bramanthia

Inisiator Akoe Indonesia | Konsultan Kreatif 

20 total views, 4 views today

Thiar Bramanthia

Inisiator AkoeIndonesia, Konsultan Kreatif dan Digital Marketing, Pemerhati Budaya Nusantara dan Blogger yang doyan kopi kental sambil dengerin musik metal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *