Sang Utusan Dari Mongolia (2)

Selembar daun jatuh menerpa wajah Meng Khi.  Digelengkannya kepala ke kiri untuk mengusir daun yang menempel di pipinya.

Sejenak Meng Khi teringat dengan ucapan Kubilai Khan beberapa waktu yang lalu sebelum keberangkatannya ke tanah Jawa Dwipa ini.

“Belumlah sempurna kekuasaanku jika Jawa belum aku taklukkan.” begitu ujar Kubilai Khan mengawali titah nya untuk mendatangi tanah Jawa.

Kedatangannya ke tanah Jawa bukanlah untuk menyerang, melainkan untuk mengirimkan pesan dari sang penguasa Mongolia. Itulah sebabnya Meng Khi merasa tidak perlu membawa terlalu banyak pasukan. Cukup seorang perwira dan sepuluh prajurit yang menemani. Sementara lima puluh prajurit lainnya biarlah berjaga-jaga di kapal.

Dikejauhan, Meng Khi melihat titik hitam yang semakin lama semakin membesar. Titik hitam itu adalah Istana Singosari. Istana yang menjadi tujuan dari perjalanan panjang Meng Khi.

Istana Singosari berdiri dengan sangat megah diatas dataran tinggi, dilindungi dua lapis baluwarti, benteng tebal terbuat dari susunan bata merah yang direkatkan setinggi lima kali gagang tombak.

Baluwarti tadi masih diperkuat lagi oleh tiang batu kali yang tersusun menjadi tulang benteng pada setiap dua puluh langkah. Dari kejauhan, benteng ini terlihat bagaikan sebuah gunung besar dengan empat buah pintu gerbang di empat penjuru mata angin.

Di sebelah luar, dilindungi oleh terusan air Klampok yang mengelilingi sebelah barat dan sebelah selatan benteng. Diberi nama Klampok karena banyaknya pohon jambu klampok dersono yang tumbuh berjajar diantara hamparan rumput luas.

Terusan air Klampok terhubung dengan selokan buatan yang lebar dan dalam di tepi benteng utara, melindungi gerbang utama. Sepasang Arca Dwarapala berdiri setia mengapit gerbang utama. Tingginya sekitar tiga kali tinggi tubuh prajurit jaga yang berdiri menjaga pintu gerbang di sebelahnya.

Kediaman raja dan keluarganya berada di belakang Pendopo Agung. Di depannya terhampar telaga luas dengan air yang bening dan jernih. Air itu mengalir dari kaki Gunung Arjuna di utara istana, lalu tersaring akar-akar pepohonan Bukit Sanggrahan. Itulah sebabnya air telaga di depan Pendopo Agung menjadi demikian bening dan jernih.

Agak jauh di depan telaga ada sebuah alun-alun yang luasnya lebih dari seratus tampah. Gerbangnya juga diapit sepasang dwarapala. Di sekelilingnya berjajar pohon brahmastana di dalam pagar kayu persegi.

Orang-orang Singosari biasa menyebut pohon brahmastana ini dengan Waringin. Perpaduan kata wri yang berarti melihat dan ngin yang berarti berpikir. Pohon waringin melambangkan langit sedangkan bagian bawahnya yang dipagari kayu persegi mengingatkan kewajiban manusia sebagai makhluk yang hidup untuk senantiasa melihat dan berpikir dalam menjaga keselarasan dan keseimbangan alam.

Di antara dua pohon waringin yang paling besar berdiri Bangsal Pemandengan. Bentuknya mirip panggung kecil tempat raja menyaksikan prajurit menggelar byuha, sebuah formasi perang yang sangat terkenal ketangguhannya.

Kebesaran nama Singosari lewat gelar byuha inilah yang kemudian terdengar hingga ke seberang lautan sampai-sampai membuat Kubilai Khan geram dan bertekad untuk menaklukkan Jawa Dwipa.

Jauh lebih kedalam lagi ada jalan berundak menanjak menuju Siti Hinggil, bagian dari istana yang mempunyai permukaan tanah lebih tinggi dibandingkan bagian lainnya.  Diujungnya ada regol, sebuah pintu beratap yang menghubungkan Siti Hinggil dengan lorong menuju Bangsal Witono dimana singgasana raja bertahta dengan megahnya.

Diujung lorong antara regol Siti Hinggil dibatasi lagi dengan regol Bale Manguntur yang langsung menuju Bangsal Witono.

Bangsal Witono sangat luas dengan tiang-tiang kokoh yang terbuat dari kayu jati pilihan. Bagian bawahnya disangga oleh umpak persegi yang terbuat dari batu andelit hitam.

Seekor kupu-kupu besar terbang melintas dan hinggap diujung tiang. Sudah sejak tiga hari yang lalu kupu-kupu itu berkeliaran dan hinggap di tiang bangsal. Sebuah pertanda alam yang mengisyaratkan tak lama lagi akan datang tamu.

Saat ini raja Sri Kertanegara sedang duduk di singgasananya yang berlapis emas dengan butiran permata di sepanjang tepi sandarannya. Dibelakang singgasana sebelah kanan berdiri tegak pusaka tombak pataka Sang Padmanaba Wiranagari sedangkan di sebelah kirinya berdiri tegak tombak pataka Sang Dwija Naga Nareswara.

Sambil duduk dengan kedua siku yang bertumpu pada lengan kursi berlapis emas, Sri Kertanegara menatap lurus kedepan kearah regol Bale Manguntur dimana tampak seseorang sedang menitipkan senjatanya kepada penjaga regol. Sebuah keris pusaka bergagang gading yang semula terselip di pinggangnya.

Orang itu bertubuh kekar dan tegap berselempang beludru hitam dengan tanda jabatan rakryan patih, jabatan paling tinggi diantara pejabat pelaksana pemerintahan lainnya. Kakinya yang tegap dibalut celana hitam yang menggantung dibawah lutut, dibungkus kain batik tulis sutera halus yang melingkar menghias sedikit diatas kedua mata kakinya.

Semilir angin pagi menebarkan harum kayu cendana dari tubuhnya. Rambut panjangnya digelung ke atas kepala, dihiasi uliran hitam bergaris tipis melingkar di dahi. Sosok itu kemudian melangkah tegap mendekati singgasana.

Siti Hinggil mendadak hening.

“Ampun Gusti Prabu. Menurut laporan telik sandi, ada serombongan kecil utusan Kaisar Kubilai Khan dari Mongolia yang sedang berkuda menuju istana. Tidak kurang dari lima puluh prajurit lainnya masih menunggu di atas kapal di pelabuhan Tuban.” Ujar sang rakryan patih memecah kesunyian setelah sebelumnya menghaturkan sembah kepada Sri Kertanegara.

“Mengapa aku belum menerima pemberitahuan dari Mongolia sebelumnya? lancang! Mau apa mereka datang kemari?”

“Ampun Gusti, tampaknya maksud kedatangan mereka adalah kelanjutan dari utusan Mongolia sebelumnya yang sudah pernah dua kali datang ke negeri ini.”

Wajah Sri Kertanegara seketika berubah. Gemeretak tulang gerahamnya. Memerah wajahnya. Tangannya terkepal keras. Masih tergambar jelas dalam ingatannya akan kedatangan utusan Mongolia beberapa waktu yang lalu. Sepertinya Mongolia masih bersikeras agar Singosari tunduk dibawah kekuasaan mereka.

“Tak akan kuserahkan sejengkalpun tanah Nusantara kepada bangsa asing!” suara raja yang marah itu menggelegar membuat suasana bangsal terasa begitu mencekam. Sri Kertanegara mengedarkan pandangannya menatap tajam setiap yang hadir di bangsal.

“Biarkan saja mereka masuk, dan langsung bawa kemari!” ujar Sri Kertanegara dengan tatapan misterius. Entah ada rencana apa didalam benaknya.

Siti Hinggil kembali hening.

bersambung ke bagian 3

 

#edisicuplikanbukuAkoeIndonesia

Salam Kreatif,
Thiar Bramanthia

Inisiator Akoe Indonesia | Konsultan Kreatif 

105 total views, 1 views today

Thiar Bramanthia

Inisiator AkoeIndonesia, Konsultan Kreatif dan Digital Marketing, Pemerhati Budaya Nusantara dan Blogger yang doyan kopi kental sambil dengerin musik metal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *