Sang Utusan Dari Mongolia (3)

Laksamana Meng Khi dan rombongan mendekati gerbang  baluwarti utama. Ada yang tidak biasa. Dua orang penjaga baluwarti langsung membukakan pintu gerbang saat melihat Meng Khi dan rombongannya datang.

Meng Khi mengerutkan dahinya. Ada sedikit semburat keangkuhan dibenaknya. Sepertinya Singosari sudah mendengar akan kehebatan Mongolia. Buktinya tidak ada penolakan atas kedatangan mereka. Setelah menambatkan kuda di sebelah kanan baluwarti, rombongan Meng Khi diantar menuju Siti Hinggil dengan berjalan kaki.

Setelah melewati puluhan anak tangga, rombongan tiba di halaman Siti Hinggil. Tepat di depan regol, Meng Khi dan rombongan diminta untuk menitipkan senjatanya sebelum kemudian melanjutkan langkah menuju suatu ruangan dimana paduka Sri Kertanegara, seorang rajadiraja telah menanti.

Sejenak Meng Khi terkagum-kagum atas kemegahan istana Singosari. Tidak disangka bahwa kerajaan yang dianggap sebagai kerajaan kecil oleh Mongolia itu ternyata memiliki istana yang begitu megah. “Negara kaya,” batinnya.

Meng Khi sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, seraya mengepalkan tangan kanan yang disatukan dengan telapak tangan kiri yang terbuka didepan dadanya.

Setelah itu, ia duduk bersimpuh diikuti oleh seorang perwira disebelah kirinya. Sepuluh prajurit dibelakang juga ikut duduk bersimpuh mengikuti pimpinannya.

“Salam hormat, Prabu Sri Kertanegara. Saya Laksamana Meng Khi, utusan kaisar Kubilai Khan dari Mongolia, penguasa seluruh jagad raya!”

Hening.

Sri Kertanegara duduk tak bergerak menatap tajam tamunya. Wajahnya memerah, gusar mendengar ucapan terakhir Meng Khi barusan.

Meng Khi mengambil gulungan surat dari balik bajunya. Gulungan itu dibuka, lalu dibaca dengan suara keras.

Yang Mulia Prabu Sri Kertanegara. Kami dari Kekaisaran Mongolia, penguasa seluruh jagad raya memerintahkan kepada Yang Mulia dan seluruh rakyat Singosari untuk segera mengirimkan upeti senilai enam puluh ribu tahil emas setiap tahun sebagai tanda takluk dan mengakui kekuasaan Mongolia!

Seketika seolah ada hawa panas menyeruak relung sanubari membangkitkan amarah seluruh yang hadir disana. Dada rakryan patih berdegub kencang. Harga dirinya sebagai putera Singosari benar-benar tersinggung. Hampir saja ia melompat menerjang Laksamana Mongolia itu jika saja tak ditahan seorang pejabat istana disebelahnya.

Tak sepotongpun kalimat keluar dari mulut Sang Raja kecuali suara gemeretak tulang rahang dan wajah yang mengeras pertanda Sri Kertanegara telah murka!

Perlahan Raja bangkit dari duduknya lalu melangkah tanpa suara menghampiri Meng Khi. Langkahnya begitu ringan seolah tak menapak bumi. Dengan gerakan halus yang tak terlihat, Sri Kertanegara meraih keris pusaka dari pinggangnya. Meng Khi sempat menangkap bebauan yang asing. Aroma cendana bercampur warangan yang mematikan menebar menusuk hidung seiring keluarnya tujuh luk keris pusaka berukir naga emas dari warangka nya.

Meng Khi mengangkat kepala bersamaan dengan seberkas cahaya biru yang berkelebat mengiring lolosnya ketujuh luk dengan kecepatan yang tak bisa ditangkap mata siapapun.

Sejurus kemudian pandangan Meng Khi menggelap bersama rasa panas luar biasa dibagian kiri kepalanya.

“Aaaaah!” Meng Khi menjerit keras sambil menatap potongan telinga kirinya tergeletak bersimbah darah di lantai. Telinga kiri Meng Khi putus berdenyut-denyut pertanda masih ada sedikit nyawa didalamnya.

Perwira disebelah Meng Khi segera menotok jalan darah disekitar telinga kiri Meng Khi untuk menghentikan pendarahan dan mencegah racun warangan menyebar kedalam aliran darah.

Sambil menyarungkan kembali kerisnya, Sri Kertanegara menatap Bekel Bhayangkara dengan sorot mata yang tajam. Tatapan mata yang segera diterjemahkan sebagai sebuah perintah.

Bunuh!

Sejurus kemudian puluhan anak panah melesat menghujani prajurit Mongolia. Seluruh prajurit asing mati ditempat. Hanya Meng Khi yang dibiarkan hidup.

Sri Kertanegara melangkah menuju singgasananya lalu berbalik menghadap Meng Khi dengan bertolak pinggang.

“Sampaikan kepada pengutusmu, bahwa Nusantara tidak akan pernah tunduk kepada siapapun juga!”

Meng Khi masih berteriak kesakitan. Harga diri Laksamana Mongolia itu runtuh sudah. Sudut matanya menangkap langkah kaki Rakryan Patih yang menghampiri seraya memberi isyarat dengan tangannya. Meng Khi diusir!

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Meng Khi langsung berlari menghambur keluar meninggalkan Bangsal Witono. Darahnya masih mengucur deras membasahi tangan kiri dan jubahnya. Sepertinya totokan di sekitar lukanya tadi tidak terlalu berpengaruh. Ditinggalkannya seluruh senjata yang dititipkan di regol Siti Hinggil. Ia terus berlari terhuyung sambil mendekap lukanya dengan ujung jubah yang telah berubah warna menjadi merah darah.

Tak lama kemudian Meng Khi tiba di pintu gerbang istana Singosari dimana beberapa kuda terbaik Mongolia sebelumnya tertambat disana. Tapi kali ini hanya ada satu kuda yang tersisa. Sementara sekitar dua puluh langkah dihadapannya ada dua ratus ekor kuda magalah Singosari yang siap membawa prajurit Singosari mengawal Meng Khi sampai ke pelabuhan.

Meng Khi segera memacu kudanya di tengah-tengah barisan pohon asoka menuju pelabuhan Tuban diikuti oleh pasukan Singosari yang mengikutinya dari belakang.

Tiba di pelabuhan, prajurit Mongolia yang menunggu di geladak kapal terkejut melihat Meng Khi yang datang dengan bersimbah darah. Mereka segera bersiap menyerang pasukan Singosari yang tampak mengawal di belakang Meng Khi.

Tidak seimbang! Meng Khi sadar betul, lima puluh prajurit Mongolia yang bersiap di kapal tidak akan menang melawan dua ratus prajurit berkuda Singosari yang sudah siap perang dibelakangnya.

Meng Khi segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi memberi tanda kepada pasukan Mongolia agar menahan serangan.

Peluit nyaring terdengar, layarpun terkembang. Kapal Mongolia bergerak meninggalkan pelabuhan Tuban bersama luluh lantaknya harga diri yang menyisakan dendam yang membara.

Selesai

 

#edisicuplikanbukuAkoeIndonesia

Salam Kreatif,
Thiar Bramanthia

Inisiator Akoe Indonesia | Konsultan Kreatif 

10,975 total views, 51 views today

Thiar Bramanthia

Inisiator AkoeIndonesia, Konsultan Kreatif dan Digital Marketing, Pemerhati Budaya Nusantara dan Blogger yang doyan kopi kental sambil dengerin musik metal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *